Selasa, 02 Juni 2020

Apa Kata Mereka tentang Buku Berbisnis dengan Tuhan

Saya tersenyum ketika membaca buku ini. Bukan menertawakan isi buku, tapi dari judulnya, telah memenuhi salah satu ‘rukun iman’ jurnalistik. Saya meyakini, penulis buku ini bukan orang biasa-biasa saja. Penulisnya tentu gemar membaca, membaca, dan membaca. Bisnis dengan Tuhan, mungkinkah? Kalau memaknai dengan kaca mata syariat, jawabnya tidak mungkin. Namun, penulis memilih judul demikian tentu berupaya mengajak kita untuk keluar dari bingkai syariat. Lalu kalau mungkin, bagaimana caranya? Sulit atau mudah? Bergantung. Relatif. Dari logika positivistik, ujung dari bisnis adalah ingin menjadi ‘kaya’. Bisnis dengan Tuhan, jawabnya sudah pasti konvergen. Dijamin bakal kaya. Hanya, arti ‘kaya’ bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Sama dengan cara orang memandang ‘sukses’. Kita percaya, hampir tidak ada manusia yang ingin hidup miskin dan sengsara. Semua tentu ingin kaya, bahagia, dan sejahtera. Toh, pada kenyataannya, jumlah orang miskin tetap jauh lebih banyak. Apakah sulit menjadi orang kaya? Apa butuh gelar doktor atau profesor untuk bisa kaya? Apakah kita tidak bisa menjadi kaya dengan cara halal, sehingga tidak harus menjadi koruptor dulu seperti banyak di berita itu? Kaya bukanlah akhir sebuah pencapaian. Sebab, seperti sedang bermain bola bekel, pemaknaan kaya terus bergerak. Karena itu, sebelum melangkah, cari arti kaya bagi diri kita sendiri. Nah, resep untuk bisa menjadi ‘kaya’ telah ditulis dengan cukup benderang dalam buku ini. Semoga membawa kemanfaatan untuk kita semua. Amin." - M. SHOLAHUDDIN, Jawa Pos
-------------------------------------------------;

BEBERAPA dasa warsa lalu, masyarakat sangat mengagungkan kecerdasan akademik atau lebih akrab dengan IQ (intelligence quotient) sebagai penentu kesuksesan. Barangsiapa memiliki IQ tinggi, dialah yang dipercaya meraih sukses di masa depan. Ternyata, sejalan pergeseran waktu dan konsep kesuksesan, bergeserlah keyakinan masyarakat tentang apa yang berpengaruh besar pada kesuksesan: ada keserdasan emosional (emotional quotient, EQ), kecerdasan spiritual (spiritual quotient, SQ), kecerdasan emosional-spritual (emotional and spiritual quotient, ESQ) dan sebagainya.

Penulis buku ini, Sdr. Priyandono, menegaskan pentingnya “karakter relijius.” Meski tidak secara eksplisit mengatakannya, dia sangat yakin bahwa karakter relijius bisa menjadi “kata kuncinya”. Dengan menempatkan karakter sebagai kata kunci, kita bisa mengukur seberapa penting hal ini bagi kerangka pikir dalam penyusunan buku ini.

Karakter relijius sendiri merupakan salah satu karakter utama yang digarap pemerintah kita dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang didukung dengan pembudayaan literasi. Empat karakter utama lain adalah nasionalisme, gotong royong, mandiri, dan integritas. Dalam pandangan penulis buku, karakter relijius merupakan karakter mendasar yang bersumber pada keyakinan pada Tuhan yang sangat penting untuk ditumbuhkembangkan bagi siapa saja—yang dengan sendirinya memperkuat empat karakter lain.

Tatkala orang memiliki karakter relijius kuat, amat boleh jadi dia memiliki jiwa nasionalisme kuat pula; sebab, berbagai Agama juga mewajibkan umatnya untuk membela negara. Orang berkarakter relijius kuat juga suka bergotong-royong; selain karena harus saling-mengenal, dia hakikatnya makhluk sosial yang wajib membantu orang lain. Orang berkarakter relijius juga harus mandiri—malu untuk bergantung pada orang lain; karena itu, dia akan bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Selain itu, orang berkarakter relijius membentuk diri sebagai manusia berintegritas. Dia memiliki konsep diri dan keyakinan diri yang kokoh berkat pengenalan diri yang paripurna.

Bagi penulis buku ini, karakter relijius sangat penting agar setiap gerak dan langkah seseorang selalu menghadirkan Tuhan. Menurutnya, tidak ada satu pun yang diraih seseorang tanpa intervensi Tuhan. Bagi orang berkarakter relijius, Tuhan senantiasa hadir di dalam dirinya: pikiran, perasaan, ucapan, sikap dan perilakunya. Inilah, menurut penulis buku, yang harus ditebarkan dan disuburkan hidupnya di ruang persemaian yang lebih luas.

Menebar virus karakter relijius, tentu, bisa beragam caranya. Dalam buku ini, penulis buku berbagi tulisannya—dengan keyakinan bahwa artikel-artikel yang ada berpotensi memiliki andil besar membentuk karakter relijius. Bahkan, dia menegaskan, buku ini dapat menuntun seseorang menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Tentu saja, semua itu terjadi tatkala artikel ini dibaca, dipahami, dan diamalkan dengan segenap hati. Jangan percaya sekarang; bacalah dulu isinya, barulah Anda boleh bersikap.

Setidaknya terdapat 30 lebih artikel yang menarik untuk dituntaskan satu per satu—yang kebanyakan merupakan artikel reflektif dan evaluatif atas fenomena atau pengalaman hidup yang beragam. Artikel pertama, yang menjadi judul buku ini, adalah “Bisnis dengan Tuhan” yang mengisyaratkan kepada pembaca untuk hanya berbisnis atau bertransaksi dengan Tuhan. Jika kita beribadah, lakukan yang terbaik dan ikhlas, dan biarlah Tuhan “membayar” nilai pengabdian yang kita tunaikan. Demikian pun ketika kita bersedekah, beramal shalih, dan sebagainya. Artikel ini mengandung bias-bias makna yang luas, sehingga tepat rasanya jika ia jadikan judul buku ini.

Artikel-artikel lain seperti “Mencari Berkahnya, Bukan Jumlahnya”, “Rezeki Terbaik adalah Sabar”, “Padukan Kesalehan Ritual dengan Kesalehan Natural”, “Menghadirkan Tuhan di Sekolah”, dan sebagainya menawarkan pencerahan-pencerahan  yang patut dipetik hikmah dan inspirasinya. Akan lebih indah maknanya tatkala kita sebagai pembaca melakukan refleksi kritis dan evaluatif setelah membaca setiap satu artikel. Rasakan ada dialog kecil internal yang mengayakan.

Saya berharap, seluruh artikel dalam buku ini menyapa pembaca dengan telaten hingga titik terakhir. Setidaknya seperti yang saya alami, buku ini membuat saya betah membacanya—karena buku disajikan dengan bahasa egaliter, sederhana, dan mengalir. Bagi siapapun yang memburu karakter relijius—baik siswa, guru, praktisi pendidikan, maupun masyarakat umum—buku ini pantas dijadikan dalah satu koleksi bacaan yang mencerahkan.

Tentu saja, dalam kesempatan ini, saya sampaikan apresiasi kepada penulis buku ini, seseorang guru yang memang suka menulis di berbagai media massa dan jurnal ilmiah. Diterbitkannya buku ini membuktikan bahwa penulis buku ini termasuk dalam jajaran “guru penulis”, yakni guru yang profesional dan sekaligus menekuni avokasi (profesi tambahan) sebagai penulis. Mudah-mudahan Pak Pri—begitu saya sering menyapanya—istiqamah dalam berkarya dan menyandang status guru penulis.

Dengan memohon ridha Tuhan yang Maha Pemurah, saya panjatkan doa dari lubuk hati paling dalam agar virus relijius menebar luas ke segala penjuru negeri tercinta ini. Insyaallah kelak kita akan mendapati lebih banyak manusia Indonesia yang kuat karakter relijiusnya. Akhirnya, selamat membaca dengan segenap hati, dan selamat memetik mutiara hikmah dan inspirasi. (Much. Khoiri *)

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Priyandono berjudul “Berbisnis dengan Tuhan” (Jakarta, Elex Media Komputindo, 2018).

*) Much. Khoiri kini dosen, editor, trainer, penggerak literasi, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Alumnus International Writing Program di University of Iowa (1993) dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996). Ia masuk dalam buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa (2014). Pernah jadi Redaktur Pelaksana jurnal Kalimas dan Jurnal Sastra dan Seni. Ia menghidupkan beberapa komunitas penulis dan Ngaji Sastra. Karya-karyanya (fiksi dan nonfiksi) dimuat di berbagai media cetak, jurnal, dan online—baik dalam dan luar negeri. Ia telah menerbitkan 42 judul buku tentang budaya, sastra, dan menulis kreatif—baik mandiri maupun antologi. Buku larisnya: Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014), Rahasia TOP Menulis (2014), Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015), Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (2017), Virus Emcho: Berbagi Epidemi Inspirasi (2017), Writing Is Selling (2018), Virus Emcho Melintas Batas Ruang Waktu (2020), dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan, Edisi Revisi (2020).

RAHASIA MENULIS PUISI

Menulis puisi merupakan aktivitas yang eksklusif. Sebab hal itu menjadi ranah personal. Puisi menjadi perantara penyair dengan sesuatu di luar penyair. Larik larik katanya seolah memiliki ruh, sehingga bisa menghidupkan rasa cinta. Cinta kepada Alloh. Cinta kepada Rasululloh. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada Istri dan anak. Cinta kepada orang lain. Dan cinta kepada makhluk lainnya.

"Tulislah A untuk menyatakan B. Tersebab itu, maka perlu metafora. Itulah rahasia utama menulis puisi," kata penyair gaek Sam Mukhtar Chaniago Sabtu (30)5) di kediamannya  Depok Jawa Barat

Rahasia kecilnya, lanjut Sam -sapaan akrabnya- masukkan perasaan kita. Karena puisi itu main rasa.  Pilih kata-kata yang mengarah ke "rasa" yang kita inginkan. Misalnya, rasa takut, benci, sayang, sedih, prihatin, menyebalkan, muak, suka, tak nyaman, galau, menyenangkan.

Penulis antologi puisi Derai Suara Ranting itu lalu memberi contoh.  Rasa menyebalkan, misalnya.  Ambillah kata-kata yang mengarah ke sana. Gunakan metafora kopi: pahit, tak manis, ada rasa onak, ada rasa duri, menyengat, gelap, pekat,  remang-remang, gamang, dan lain lain. Tujuan yg ingin dicapai gunakan metafora cahaya, rinduMu, rengkuhanNya

Rasa yang kita bangun harus mampu menyentuh pembaca. Agar pembaca juga merasakan yang kita rasakan. Kalau bisa buat kejutan yang bisa membuat pembaca terhentak pada baris terakhir.
Kejutan biasanya di akhir bait atau baris. "Aku dalam setiap elahan nafasku, selalu menatap rinduMu. Ini kejutan. RinduMu. Rindu Alloh," imbuhnya

Puisi ada yang bernilai sastra, ada juga puisi yang tidak bernilai sastra. Syarat puisi yang bernilai sastra ada 2: Menyenangkan dan bermanfaat.

Puisi yang tidak bernilai sastra, bentuknya saja yang seperti untaian puisi, berbait-bait serta ada baris-baris kalimatnya. Kata-katanya indah, mungkin juga menyenangkan,  tapi tidak mampu membuat pembaca memetik atau menyentuh rasanya. Tidak bisa membangun rasanya, membentuk pribadinya, bahkan karakternya. (**/)

PUISI PUISI PRIYANDONO

(i) Sajak Guru Kita

Guru laksana petani. hanya menanam benih-benih cinta di persada.
hanya merawat tetanaman  di belantara maya pada. tak sanggup memaksa segala rupa tetanaman berbunga indah mekar berbuah. Guru tak kan mungkin mencipta takdir takdir manusia kecilnya.
Mereka tumbuh kembang dengan langkah dan jalannya sendiri.
meski kadang manusia kecil itu kelak menemukan jalan yg terjal  yaitu jalan jalan  yang tak disukainya.


(ii) Menjemput Malam

ada yang tak biasa, pagi melesat pergi bersama butiran butiran kabut
lengkung cakrawala di ufuk timur tak meninggal rona merah
bocah-bocah itu kembali berjibaku melawan waktu, memikul matahari
kadang diletakkan di pundak kirinya
sesekali di pundak kanannya
sorot matanya bagai kilatan halilintar
menyambar asa yang bergelantungan di antara lengkung dedaunan
bocah-bocah itu tetap memilih pulang meski kedua pundaknya penuh bercak berwarna merah kehitaman
menjemput malam yang bertabur mawar berhias mimpi-mimpi nan indah
menjaga asa diantara kelap kelip cahaya bintang


(iii) Halimun

laksana halimun
merangsek dari kaki ke atas bukit
aku tak mengerti seperti apa akhir perjalanan ini, tapi yang ada di dalam mimpi tak akan kubiarkan

laksana halimun
yang tak tertembus cahaya
aku tak mengerti seperti apa takdirku, tapi, sepotong roti itu tak akan kubeli dengan menjual harga diri

laksana halimun
yang selalu bergerak bersama-sama
aku tak mengerti akan di bawa ke mana tunas tunas ini, tapi aku tak mau menggigil dalam dingin kabutmu


(iv) Masih ada......
Masih ada yang taat pada pimpinan
daripada kebenaran
Masih ada yang tunduk pada kenyataan
daripada membuat perubahan
Masih ada yang memilih menjadi budak asalkan kenyang
daripada lapar mempertahankan idealisme
Masih ada yang suka ''menjahitkan"
daripada menganyam sendiri
Masih ada yang setia pada tugas
daripada memenuhi panggilan jiwa
Masih ada yang suka makan roti tapi mimpi
daripada makan ketela tapi nyata
Masih ada yang hidup dalam mimpi
daripada mimpi dalam hidup
Masih ada...........

(v) Tentang  Batas itu.

Sejak dulu batas itu ada.
Batas tidak akan bisa dilampaui, kecuali oleh tsunami dan puting beliung.
Kita seharusnya menciptakan batasan, bukan kebebasan.
Kita harus bisa menahan diri agar tak melewati  batas.
Kita wajib tahu batas, bukan menggoda dan merayu batas agar bisa bebas.
Alam ini kalam bersambung.
Tugas kita bukan kebebasan, tapi keterbatasan
Kewajiban kita tahu batas, bukan bebas bicara, bukan demokrasi, karena semua ada batasnya


(vi) Sajak Kawan Kita -1
kawan
kabarkan pada deburan ombak 
bulan di ujung petang luka teriris
malam pun gelap menangis.

kawan
sampaikan pada bulan dan gemintang
aku tidak takut mencapai gelap
untuk mendapatkan terang di hatimu

kawan
kabarkan pada ombak yang mengalun
luka di dadaku bertambah parah
aku dan malam semakin resah

kawan
sampaikan pada bulan di matanya
aku rela kehilangan permata
untuk dapatkan mentari pagiku

kawan
kabarkan pada riak ombaknya
luka di hatiku semakin pedih perih
ketika malam hening menjelma sepi tak bertepi

kawan
sampaikan pada bulan di ujung malam
aku kan mengubah pedih sepiku
menjadi senyum di matanya.


(vii) Sajak Kawan Kita -2

kawan
sampaikan pada temaram malam
kala bulan (yang tertembus peluru) bersembunyi di sebatang lalang
jauh itu, kala bintang
tidak saling tegur sapa, kala keduanya
saling memunggungi, kala
kata kata tidak lagi berdenyut,
kala itu kopi panas tidak lagi mampu mengepulkan harum malamnya                                              
mengapa engkau enggan segera menyapanya?.

Bakul Jamu Gendong dan Tukang Rambutan

Ini cerita bakul jamu gendong kepada tukang becak, suaminya// "Pak ne, siang tadi panas matahari menyengat sekali//arak arakan mahasiswa pengunjuk rasa itu berteriak-teriak ke arahku: "hidup reformasi, hidup kekuatan rakyat!" kata mereka sambil mengepalkan tanganku//Aku membalasnya: "hidup reformasi, hidup mahasiswa!," kataku

Itu adalah penggalan "Sajak Bakul Jamu Gendong" yang ditulis Sam Mukhtar Chaniago. Latar puisi tersebut adalah peristiwa 1998. Penyair yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta itu memotret aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi ke dalam larik-larik kata yang sarat kritik sosial.

Keyakinan yang kuat dari para mahasiswa pengunjuk rasa menyampaikan agenda reformasi dibalut dengan semangat kebersamaan yang luar biasa. Tanpa kebersamaan masyarakat madani yang dicita-citakan tidak akan bisa terwujud. Hal ini tergambar dari penggalan berikutnya:
"Tiba-tiba Pak Ne, salah seorang mahasiswi menghampiriku, dia menyalamiku, bahkan mencium tangan tuaku, sambil mengangkat tanganku, dia berkata: "kawan kawan seperjuangan, lewat tangan rakyat inilah bangsa ini kuat, lewat tangan inilah bangsa ini sehat!"

KKN membuat orang mati sajroning urip. Para mahasiswa yang hendak menyelamatkan bangsa ini dari KKN harus didukung. Siapa pun harus memberikan andil meskipun sewaktu-waktu bahaya mengancam jiwa. Semangat ini ada dalam penggalan berikut:
"kemudian pak ne,// aku tawarkan pada mereka minuman jamu yang kubuat// mereka dengan senang hati dan tanpa ragu meminumnya//falam seketika bungkus bungkus plaatik itu habis//dengan tulus dan ikhlas aku katakan pada mereka: "tak usah dibayar nak! itulah yang dapat nenek sumbangkan untuk perjuangan kalian!"
*************

Sebelumnya,  tahun 1966 Taufik Ismail pernah menulis puisi "Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya". Ada kemiripan pada makna dan suasananya. Latarnya saja yang berbeda. Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya, berlatar peristiwa tritura, menceritakan demonstrasi mahasiswa menuntut penurunan harga harga barang. Daya beli masyarakat tidak menjangkau. Harga barang tinggi, sementara uang sedikit yang beredar.

Lepas dari makna dan suasana puisi.  Dalam berkarya, tidak menutup kemungkinan seseorang terinspirasi dari karya seseorang. Model puisi Taufik Ismail dan Sam Mukhtar Chaniago disebut puisi balada. Tentu agak berbeda penggarapannya dengan puisi pada umumnya

Selain kedua penyair di atas, ada juga penyair yang dikenal sebagai penulis puisi balada. WS. Rendra, misalnya. Dia juga dikenal sebagai penyair pamflet. Karena puisi puisinya yang mengandung kritik sosial banyak dibuat dalam bentuk puisi pamflet.

Puisi pamflet Rendra terkumpul dalam buku puisi "Pamflet dalam Pembangunan". Selain itu, puisi balada Rendra juga terkumpul dalam buku "Balada orang orang terkenal" dan "Balada sepatu tua" (**/Pri Ethek)

Senin, 04 Mei 2020

KEMATIAN ADALAH KAWAN SEJATI

"Kematian adalah kawan sejati. Di saat semua menjauh, dia justru semakin mendekat dan pasti," kata Candra Malik

Setiap mendengar kata pulang siapapun pasti senang. Anak anak sekolah ketika lonceng berbunyi tanda pelajaran berakhir pasti senang. Karena sebentar lagi pulang ke rumahnya masing masing. Berbagai alasan dikemukan. Ada yang beralasan karena kangen ingin segera pingin ketemu ayahnya karena sudah seminggu ditinggal dinas ke luar kota. Ada juga yang berdalih karena lapar karena berangkat sekolah tadi tergesa-gesa sehingga tidak sempat sarapan.

Akhir pekan adalah waktu yang paling disukai oleh pegawai yang sedang dinas ke luar kota. Karena mereka akan segera pulang setelah seminggu meninggalkan keluarganya. Bermacam macam alasan disampaikan. Ada yang rindu ingin segera bertemu istrinya. Maklum karena pengantin baru. Ada juga yang pingin segera ketemu anaknya yang masih semata wayang.

Jika anak anak sekolah pulang ke rumahnya masing masing senang. Pegawai yang dinas ke luar kota, pulang bertemu keluarga di rumah juga senang. Orang-orang yang ada di perantauan pulang ke kampung halamannya senang.   Lantas mengapa saat ditanya kapan pulang kepada Allah  semua pada takut. 
Jujur, semua pasti takut.  Padahal, di dunia ini tidak ada yang semakin dekat dan pasti, kecuali pulang ke Rahmatullah atau kematian. 

Mati itu pantas. Anak anak mati, pantas. Pemuda mati pun, pantas. Orang tua mati, juga pantas. Dan syarat-syarat mati tidak harus sakit. Pagi tampak kelihatan sehat. Sore dikabarkan meninggal juga ada. Sore mengeluh kepalanya sakit, malam diumumkan di masjid meninggal juga ada.

Kematian tidak bisa ditakuti juga tidak bisa minta. Takut seperti apapun kalau Allah emngutus malaikat Izroil menyabut nyawanya ya tetap meninggal. Pemberani seperti apapun, kemudian minta supaya mati kalau Allah belum mengutus malaikat pencabut nyawa melaksanakan tugas ya tidak bisa mati.
Kalau dikaji lebih mendalam, Penyebab utama manusia takut kematian adalah sikap hubuddunia. Sikap cinta kepada dunia yang berlebihan telah mengakibatkan erosi keimananan. Keindahan dunia telah membuat manusia silau dan menjauh dari Allah SWT. Kecintaan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi menggeser pola pikir manusia ke arah sekuler. Semua yang ada di dunia ingin dikuasai. Dengan cara apapun. Yang kuat tanpa rasa iba sedikit pun menginjak-injak hak mereka yang lemah. Tidak hanya itu, amanah yang dititipkan, menjaga alam beserta seluruh isinya juga digagahi. Padahal semua itu adalah tipu daya dunia. Mereka lupa bahwa kehidupan dunia adalah kesenangan yang memperdayakan. Illa mata’ul ghuruuri

Sikap Hubuddunia mengakibatkan manusia menjadi budak dunia. Orang yang cinta terhadap harta bendanya pasti takut kekayaannya berkurang atau hilang. Karena itu mereka melakukan proteksi serta penjagaan yang ketat. Orang yang cinta pada jabatannya juga pasti takut kehilangan jabatannya. Karena itu mereka melakukan pendekatan-pendekatan terhadap pimpinan untuk melanggengkan jabatannya. Pemuda yang cinta terhadap kekasihnya, so pasti takut diputus pacarnya. Karena itu mereka akan melakukan apa saja yang agar kekasihnya tidak marah.
Kalau manusia mengaku cinta kepada Tuhan, seharusnya mereka melakukan sesuatu yang disukai Tuhan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang Tuhan. Hubuddunia merupakan perwujudan sikap manusia yang sombong kepada Tuhan. Jika tidak ingin dijadikan budak dunia serta terhindar dari hubuddunia manusia harus sombong pada dunia.

Emha Ainun Nadjib dalam Agus Nur Cahyo (2016:205) mengatakan,”Saya memang sombong. Harus itu ! Sombong kepada dunia itu wajib hukumnya. Yang tidak boleh sombong itu sombong kepada Tuhan. Tetapi kepada dunia, popularitas, semua yang ada di dunia, harus sombong. Kepada uang, harta benda, harus sombong. Kalau tidak, Anda hanya jadi budak dunia”.

Hari ini, besok, lusa atau kapan pun manusia pasti pulang (baca:mati). Kapan saja manusia pasti pulang. Karena itu sikap hubuddunia harus dikubur dalam dalam. Kita manfaatkan setiap hembusan nafas ini untuk melakukan perbuatan yang dikehendaki Tuhan. Detik detik umur kita gunakan untuk mengais amal perbuatan yang baik. Dan sisa umur ini kita manfaatkan untuk berburu bekal agar perjalanan pulang menuju rumah yang abadi selamat. Keluarga kita di surga sedang menunggu, kapan kita pulang. Semoga Tuhan senantiasa menuntun kita dalam perjalanan pulang. (*/)

SEORANG GURU TEWAS SETELAH MENDENGAR HOAKS

Siapa yang tak kenal Drona. Ia adalah guru Pandawa dan Kurawa. Saat perang Mahabharata meletus Drona memimpin pasukan Kurawa setelah Bhisma tak mampu lagi dan akhirnya tewas. Drona mendapaykan ilmu peperangan dari huru Parasurama.

Siapakah Drona itu? Ia anak pendeta Bharadwaja dari hasil.perselingkuhannya dengan bidadari. Namun ia tidak pernah sedetik pun berada dalam rahim bidadari itu. Dikisahkan, saat hendak menyucikan diri ke  sungai Gangga, Ia melihat bidadari yang sangat cantik. Seketika itu ia merangsang. Syahwatnya tak mampu dikendalikan. Lalu mengeluarkan air mani yang banyak sekali. Agar tidak berceceran, sang pendeta itu mengatur air maninya dan menampungnya di dalam tong (droon). Dari droon itulah Drona lahir.

Ia tumbuh di tengah kemiskinan. Namun, keadaan yang sulit itu tidak menghalanginya untuk belajar. Masa mudanya dihabiskan bersama sahabat karibnya Drupada. Makan sepiring berdua. Tidur sebantal. Rokok sebatang diisap berdua. Yang jelas susah senang dinikmati berdua.

Suatu ketika, saat keduanya bersama sama berteduh di bawah pohon di tepi bengawan, Drupada berjanji, "nanti kalau saya menjadi raja Panchala, separo kerajaan akan aku berikan kepadamu, wahai sahabatku" janjinya sambil menggandeng tangan Drona. Lalu pulang.

KEMEWAHAN YANG MEMBUTAKAN
Malam pergi begitu cepat. Fajar datang dengan muka tak bersahabat. Lengkung cakrawala di ufuk timur tak menyisakan rona merah. Pagi takut, lalu melesat pergi bersama halimun menuju kaki bukit.

Drona belum beranjak dari rumah. Kakinya seperti tidak bisa digerakkan melihat anak satu satunya Aswatama menagis dalam gendongan Mamanya, Krepi. Tangis Aswatama semakin menjadi-jadi. Sepertinya ia merindukan air susu. Kemiskinan yang melilit keluarga Drona membuat Krepi hanya bisa memberikan air yang dicampur tepung sebagai penggganti susu formula.

Drona bertekad mengakhiri kemiskinan ini. Pundaknya sudah tidak mampu lagi menyangga air mata Krepi dan Aswatama. Di tengah kekalutan, Drona ingat sahabat sepermainannya, Drupada yang sukses menjadi raja di Panchala. Dulu, Drupada pernah berjanji akan memberikan separo kerajaannya kepada Drona.

Drona pamit pada Krepi akan menemui Drupada. "Kau yang sabar ya Krep. Saya akan menagih janji Drupada. Jaga baik baik anak kita, Aswatama," pesannya sambil mengelus rambut Krepi.

Drona memesan ojek online. Namun sayang sekali saat membuka aplikasi, tidak bisa. Karena data internetnya habis. Dimasukkan kembali HP-nya di saku celana. Dia memutuskan naik sepeda pancal. Baru beranjak dari pintu rumah, token listrik berbunyi. Drona lalu menatap Krepi yang tengah menggendong Aswatama. "Sudahlah....berangkat saja. Biar nanti saya beli token pakai OVO," kata Krepi.

Druno berangkat naik sepeda pancal. Ia mengayuh menyusuri pekat dengan sepeda pemberian kakak iparnya Krepa -guru di Hastinapura. Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, Drona sampai di Panchala. Dengan keringat yang membentuk seperti kanal di tubuhnya, ia menghadap Drupada.

Drona inginnya reuni tipis topis setelah beberapa tahun bertemu. Namun apa yang terjadi. Drupada berubah 360 derajat. Tidak humble lagi. Raja Panchala itu dibutakan oleh kemewahan dan kekuasaan yang melingkupinya. Nilai nilai luhur persabatan terkubur oleh kesombongan dan keangkuhan. Drupada menghina dan merendahkan Drona. Ia mengaku malu mempunyai kawan seperti Drona yang compang camping itu. "Persahabatan hanya terjadi antara dua orang yang mmemiliki taraf hidup yang sama,"ejeknya.

Dengan kalimat yang menohok Drupada mengingatkan Drona agar tidak mengaku sebagai sahabatnya. "Kalau minta, minta sajalah. Tidak usah mengaku-aku sebagai.sahabat," ujarnya dengan muka sinis.

Melihat kenyataan yang tidak pernah terpikirkan itu, Drona tidak bisa berkata apa apa. Dalam hatinya berbisik akan melakukan revance. Ia membisu meninggalkan Drupada.

TEWAS KARENA HOAKS
Perang dahsyat di medan Khurusetra memasuki hari ke-13, Kresna menyusun strategi melumpuhkan pasukan sata Kurawa yang dipimpin Drona. Kresna memberi isyarat pada Yudistira bahwa Drona akan luimpuh, taK berdaya lalu menyerah apabila Aswatama - putra kesayangannya gugur di medan Kuru.

Di tengah keramaian, Bima berteriak Aswatama gugur setelah ia membunuh seekor gajah bernama Aswatama Hatha Kunjara. Frase "Hatha Kunjara" yang menerangkan bahwa seekor gajah telah mati, tidak terdengar karena kegaduhan bunyi genderang dan terompet atas perintah Kresna. Sehingga yang terdengar hanya Aswatama gugur.

Drona kemudian mendekat pada Yudhistira untuk memastikan kabar dari Werkudara. "Ya Aswatama gugur," jawab putra pertama Pandawa

Episode Mahabharata di atas seolah menjadi pembenar bahwa hoaks (berita bohong) itu sangat mematikan. Ia laksana racun ular kobra. Setiap kemenangan selalu dibangun dengan cara-cara yang culas, Tanpa berfikir panjang fitnah (hoax) ditebarkan sehingga membuat lawan-lawannya tewas secara perlahan-lahan.

Di era revolusi 4.0 hoaks laksana senjata biologis. Saat virus hoax ditiupkan lawan-lawanya dipastikan klepek-klepek seperti ikan mujaer kehabisan air. Setiap pertarungan, kompetisi, kontestasi, bondan,sampai persaingan bisnis, tidak bisa lepas dari hoaks.

Perang melawan hoaks adalah niscaya agar kemenangan yang diraih tanpa harus merendah pihak lain. Digdaya tanpa aji,sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Hoaks no, integritas yes, guyub rukun koncoan selawase oke.

Sabtu, 02 Mei 2020

Dialog Imajiner dengan Kihajar Dewantara

Ki, saat saya berada di tempat peristirahatanmu. Di tempat yang suatu saat orang- orang juga akan menjadi bagian dari batu nisan - batu nisan itu, aku semakin jelas melihat baktimu. Kau tak kenal lelah. Setiap tetes keringatmu demi  mencerdaskan anak- anak bangsa.

Ki, di tempat tidur panjangmu bersama dengan bunga bangsa yang lain, aku tertunduk haru lalu mengheningkan cipta.  Mengingat jasa - jasamu mengangkat derajat negeri ini.

Aku merindukan sosok sepertimu Ki. Sosok yang ing ngarsa sing tuladha, ingat madya mangun karsa, Tutwuri Handayani. 

Saat ini mencari sosok seperti itu sangat susah Ki. Seperti mencari jarum yang jatuh di tengah hijau rerumputan. Yang banyak justru malah ing ngarsa ngumbar angkara. Ing madya  numpuk harta (mengumpulkan harta). Tutwuri melu ngadhahi.

Yang berada di depan tidak memberikan teladan yang baik. Sewenang-wenang. Adigang adigung adiguna. Kasih sayang yang diberikan Tuhan dibiarkan begitu saja. Yang kuat tanpa belas kasihan mengangkangi hak hak wong cilik.

Yang di tengah tidak memberikan dorongan positif. Bekerja dan berkarya lebih baik. Tapi diam diam malah mengumpulkan pundi pundi kekayaan. Amanah yang diberikan Tuhan dikhianati, apapun uang ada di sekitanya dilahap. Persis seperti api yang berkobar.

Sementara yang di belangkang tidak mau tutwuri handayani. Justru malah nyrimpeti. Diam-diam malah melu ngadahi. Ikut menerima dum duman. Kalau tidak dapat bagian atau bagiannya kurang, berteriak seperti harimau kelaparan. Nanti kalau sudah bagiannya cukup, diam. Anteng. Seperti harimau yang sedang tidur. Bahkan suatu saat harimau itu tidak hanya makan daging tapi juga doyan tahu.

Mereka pada bertengkar dengan kawannya sendiri Ki. Saling asih asah asuh yang dulu kau ajarkan semakin terpinggirkan. Yang dilakukan masih sebatas artifisial. Seolah-olah memperjuangkan ternyata memanfaatkan. Seolah-olah mengajak ternyata mendepak. Seolah-olah merangkul ternyata memukul. Seolah-olah berbagi ternyata korupsi.

Untukmu Suwardi Suryaningrat segala hormat kupersembahkan. Segenap  cinta kuhaturkan. Sejumlah doa doa  terbaik kupanjatkan. Maafkan karena telah mengganggu tidur panjangmu.

Selamat hari pendidikan nasional 2020. Semoga lewat pendidikan lahir pribadi pribadi yang deawasa dan berkarakter. Pribadi pribadi yang paham benar perjalanan sejarah bangsanya. Bukan penjahat penjahat yang cerdas.

Tetap semangat di tengah pandemi covid-19. Berkarya meraih berkah di tengah wabah. (**/)